SEPATU
Sore itu aku memulai program
pelepasan penat-ku dengan melepaskan sepatu didalam ruang tamu. Secantik apapun
aku menatanya, sepatu itu tetap terlihat mencolok dan kontras dari ruangan apik
dan resik yang sudah ditata sebelumnya. “percuma” kupikir. Tidak mau
menghabiskan waktu yang panjang, aku meninggalkannya.
Setelah itu memasuki ruangan
keluarga dan ruang makan dengan reflect menghidupkan saklar lampu disana. Aku membiarkannya
menyala sepanjang hari, dan melakukannya terus menerus sebanyak aku
melewatinya. Pelanggaran kedua.
Lalu aku memasuki zona nyamanku,
ruang yang mungkin satu - satunya tempat tanpa intervensi apapun di rumah itu
kecuali : aku. Melepaskan baju formal yang kupakai sepanjang hari dan tas yang
kurangkul begitu saja di atas kasur hingga meninggalkan diriku yang tanpa
busana. Pada dasarnya aku adalah orang yang pemalu, sehingga aku pastikan dengan
menutup kamar dan mengunci nya. Dengan melakukan itu, hanya menyisakan aku dan
ruangan gelap tanpa ventilasi udara dengan pencahayaan yang sangat minim. Hari itu
jam 5 sore, kuputuskan untuk menghidupkan lampu. Dari sana aku bisa melihat lemari tempat biasanya aku
mendapatkan pakaian rumah favoritku, kubuka lemari itu dengan baju yang
tersusun rapih dan resik didalamnya. kalap aku mencari pakaian dan memakainya
segera. Meninggalkan lemari itu dengan keadaan terbuka dengan isi yang sedikit
tidak beraturan dari sebelumnya.
Pelanggaran ketiga dan keempat.
Latar suasana dari ruang-ruang
itu sedemikian rupa berubah menjadi “tidak tenang”. Untuk beberapa rumah
mungkin hal ini tidak masalah. Namun dengan tinggal bersama seseorang yang
memiliki kecenderungan OCD (Obsessive Compulsive Disorder) adalah suatu masalah
besar. Yang menjadi masalah ini menjadi
lebih besar lagi adalah bahwa kamu mencintainya.
Pelanggaran kelima, keenam, sampai
keseratus tujuh puluh empat akan aku
lakukan selama aku masih berada didalamnya. Dan penalty akan diberikan pada
saat sang pemimpin keluarga pulang : mama. Satu demi satu ia koreksi dengan
runut seperti penjelasan sebuah hirarki ruang dalam pelajaran studio arsitektur
semester 3. sebagian aku benahi dengan lapang dada, sebagian lagi aku biarkan. Ada
2 alasan aku membiarkannya, yang pertama adalah aku tidak memiliki kemampuan
untuk menyelesaikannya dan yang kedua adalah ego-ku yang memutuskan untuk tidak
melakukannya. Hal ini terjadi setiap hari. Sama sekali tidak ada perubahan. apakah
kita lelah satu sama lain ? tidak. Apakah kita mencoba untuk merubah sikap kita
satu sama lain ? tidak juga. semua mengalir begitu saja dan bagian dari
keseharian kita didalam rumah.
Lalu aku pergi sebentar kerumah
tetangga di sebelah rumah, dengan membawa kebiasaan yang hampir sama. Masuk buka
alas kaki dan tidak memperdulikan perletakannya, memasuki ruangan, memindahkan
sesuatu, berinteraksi, mengobrol, bercanda, tertawa semua terlihat sangat
normal dan biasa. Akan tetapi aku melihat bahwa didalam rumah sana mereka
memiliki toleransi yang cukup besar lagi dari hal- hal yang jika ditempatkan
didalam rumah kita akan menjadi masalah besar. Aku melihat sebuah mainan anak
kecil bergeletakan di ruang tamu dan ruang keluarga, sesekali aku melihatnya di
ruang makan. Jaket yang baru habis dipakai ditambah secangkir bekas minum kopi
dan asbak rokok yang ditinggalkan begitu saja di ruang tamu, televisi dan lampu
ruang keluarga yang hampir 24 jam tidak dimatikan, pintu-pintu yang selalu
terbuka dan tidak ada satupun yang memperdulikannya dan lainnya. Semua terjadi
begitu normal dan tidak ada yang mengoreksi satu sama lain. Tapi aku menemukan
dari mereka mengoreksi juga terhadap hal - hal tertentu yang menurut mereka itu
sudah “cukup” mengganggu.
Berangkat kerumah tetangga mu
yang lainnya maka kamu akan menemukan mereka dalam tingkatan toleransi yang
berbeda lagi atas ruang - ruang didalamnya.
Setiap orang, setiap tempat,
setiap makhluk punya toleransi yang berbeda dari setiap ruang yang mereka
alami. Toleransi itu mereka dapatkan dari didikan yang mereka dapatkan turun
temurun dari kecil, dari kepercayaan mereka, dari adat istiadat setempat,
lingkungan yang membawa mereka, dari pergaulan, profesi, dan kepada siapa -
siapa mereka berinteraksi setiap harinya.
Melihat keadaan perkembangan
dewasa ini ? sulit bagi kita menemukan sebuah kedalaman dari sang perancang dalam
mendesain. Kedalaman dalam menemukan aktifitas “yang sebenarnya” dari sebuah
aktifitas. Wajah dibalik wajah. Seperti teori bahwa agar mendapat pencahayaan
yang sesuai, perancang meletakkannya di wajah utara-selatan bangunan. namun
pada aktifitas kesehariannya, kebetulan bagian utara dan selatan bangunan itu
merupakan rumah tetangga yang sudah menjadi musuh 7 turunan si pemilik rumah,
atau terdapat rumah seorang pengantin baru dengan desain yang sangat terbuka
sehingga si pemilik bisa melihat “segala” aktifitas didalamnya. Tentu sang
pemilik akan lebih memilih untuk menutup jendela itu atau memberikan tirai yang
tidak dapat terlihat atau melihat keluar. Dan kemudian si pemilik akan mencoba
bertoleransi terhadap pencahayaan ruangan didalamnya.
Toleransi terhadap ruang, adalah
suatu pembelajaran yang tidak akan ditemukan dalam buku manapun dalam
pendidikan arsitektur. Mungkin kamu akan menemukan permukaannya, tapi tidak
sedalam ketika kamu benar - benar mengalaminya. Hal ini mengakibatkan terdapat
perbedaan atau gap yang sering sulit diselesaikan oleh
mahasiswa-yang-baru-lulus-yang-secara-kebetulan-dapat-proyek. Banyak permintaan
dari klien yang sebenarnya sangat normal namun penjelasan tentangnya sangat
sedikit kita temukan dalam pendidikan arsitektur. Dalam buku Force of
Architecture-nya Alejandro Aravena dijelaskan bahwa ada beberapa komponen
penting yang tidak bisa kita rubah dalam Arsitektur, yang pertama adalah
gravitasi, lalu iklim, dan yang ketiga adalah tentang aktifitas keseharian si
penggunanya. Yang mana ketiga komponen itu merupakan penentu dasar dari sebuah
arsitektur. Ada beberapa aktifitas pengguna yang bisa dirubah, namun juga ada
ada aktifitas yang mana kita perlu toleransi didalamnya. Yang tidak bisa
dirubah.
Jika hal ini sudah tercapai dalam
sebuah perancangan, mungkin problema dari sebuah sepatu yang ditaruh didalam
ruang tamu oleh si anak, akan lolos dari bahan koreksi-an si mama.

Komentar
Posting Komentar