PENDEK .




“Mas, bangunannya jangan pendek-pendek elevasi-nya. Nanti gak kemasukan cahaya. Sama nyamain juga dengan yang di sampingnya biar gak terlalu njomplang.” Kata Si Bapak sebelum meninggalkan tempat duduknya.

Ditemani secangkir kopi yang sudah hampir dingin terlupakan dan sayup - sayup cahaya senja yang memasuki  roster berbahan sintetis yang menyerupai tanah liat di samping tempat duduknya, wajah Adimas terlihat bingung.

Bukan, ini bukan masalah elevasi. wajah-nya merepresentasikan bahwa ini lebih dari sekedar itu. Sejak memulai pendidikan teknik arsitektur, kita disadarkan oleh sebuah teori bahwa arsitektur tidak boleh lepas dari orientasi. Orientasi terhadap Klimatologi, terhadap sejarah, terhadap budaya dan keseharian adat setempat, material, sampai terhadap hal - hal kecil dan yang mendetail.

Namun semakin dewasa umur dunia ini, orientasi itu semakin menyempit. Saya berani berkata demikian, jika melihat dari kondisi dari perkotaan kita saat ini. Bayangkan jika kamu terbangun pada pagi hari di sebuah tahun yang mungkin 20 sampai dengan 40 tahun dari sekarang. Ketika kamu membuka tirai jendela kamar kamu dan sama sekali tidak ada cahaya disana kecuali bangunan yang sama percis dengan bangunan tempat tinggalmu yang jarak antar bangunannya bisa kamu lewati sekali lompat.

Cahaya terlihat memasuki selah sempit di atas kepala-mu yang jaraknya beratus - ratus meter di atas sana. Tidak cukup untuk menyinari kamarmu dan membawa semangat pagi di antara sinar - sinar cahaya itu. Kamu putuskan dengan menghidupkan cahaya buatan dan mengambil sebuah Koran kemarin. disana kamu disodori oleh sebuah berita utama yang berada di halaman paling depan. yaitu sebuah demo besar-besaran tentang penolakan penggusuran bangunan Heritage : Burj Khalifa sebagai yang “pernah” menjadi bangunan pencakar langit tertinggi pertama dan bangunan terakhir yang tersisa yang juga “pernah” berorientasi terhadap lingkungan di sekitarnya.

Burj- Khalifa pada saat itu sedang mengalami masa - masa tuanya dimana elemen lanskap pada bangunan itu sudah habis termakan oleh Burj Khalifa Junior, Burj Khalifa new generation, Sister, brother, daughter, dua, tiga, empat, dan keturunan - keturunannya yang lain.

Ketika kita berada pada kondisi dunia seperti itu, lantas kemana arah orientasi dari arsitektur pada masa itu ? apakah masih penting meng-orientasikan jumlah pemasukan cahaya atau sirkulasi udara ? atau apakah kamu masih mau memikirkan tentang kondisi geografis sedangkan kamu sendiri tidak mendapatkan elemen geografisnya ? atau mengalami depresi dan dilema berkepanjangan  tentang membangun sebuah hotel bintang tujuh puluh yang berada pada kawasan Heritage yang mana jika kamu perhatikan, yang kamu temukan hanyalah sebuah bangunan dengan rata - rata tahun terbangunnya 10 - 15 tahun terakhir ?

Bagaimana cara kita berorientasi terhadap arsitektur ketika masa - masa itu datang ? apakah hanya sebatas fungsi utama dan estetika ? atau hanya sebatas ego dan jumlah kocek kita ? utara - barat - timur - selatan, Masihkah ada pengaruhnya ?

Kembali ke tahun 2018, dimana pembangunan sedang maraknya terjadi sana sini, satu selesai yang lain menyusul. Berapa banyak dari pembangunan dikota kamu yang masih berorientasikan kepada lingkungan di sekitarnya ? atau ada berapa banyak bangunan yang terbangun pada lahan di zonasi perkotaan yang tidak sesuai semestinya ? kita bisa mengevaluasi mereka satu - satu tapi tetap tidak ada yang bisa kita lakukan untuk merubahnya. Kita telah memasuki masa dimana sebuah bangunan bukan lagi secara gamblang diperuntukkan untuk penggunanya, sebagian dikuasai oleh pemegang saham dan orang - orang yang menyatakan dirinya berorientasi ke masa depan.

Orientasi ke masa depan  seperti apa yang dilakukan ?

Seperti seekor ayam yang lebih memilih serpihan beras yang dilemparkan majikannya daripada ladang gandum dibelakangnya, untuk apa kita membuat bangunan yang sangat tertutup dengan pengkondisi udara buatan di dalamnya di lingkungan yang memiliki kecukupan sinar matahari dan angin yang menyejukkan ? mengapa kita menggunakan rumput sintetis di zaman yang mana kamu masih bisa menemukan rumput alami tumbuh liar disepanjang bibir jalan ? mungkin ini yang dimaksud oleh para visioner itu tentang berorientasi-ke-masa-depan.

Kembali ke masa depan, dimana semuanya sudah terlalu terlambat untuk diperbaiki, dan apa yang kita coba lakukan pada saat ini bukan lagi seperti menuju kesana, tapi benar - benar seperti kita sudah berada disana. Kita memperpendek jangkauan waktu itu menjadi lebih cepat, dan melangkah lebih cepat dari yang ditakdirkan. Mengapa manusia sangat bersemangat dan buru - buru sekali menuju kehancuran diri mereka sendiri ?

Ini semua diawali oleh sifat modernisme yang dimiliki oleh manusia saat ini. Di zaman yang serba instan dan serba cepat, Kita menginginkan pula segalanya menjadi cepat. Cepat kaya, cepat memiliki rumah, cepat berpindah, cepat berjalan, cepat sukses. Yang ironisnya, solusi - solusi yang di temukan dari hasrat ini malah memperlambat dan memperpendek proses berfikir kita. Kita meng-instan-kan pemikiran kita sendiri.

Sedih memang jika melihat bahwa orientasi yang dilakukan pada proses ber-arsitektur di kotaku ini sangat sedikit dan sangat pendek. Tidak sedikit kita menemukan sebuah bangunan yang terbangun… begitu saja. Atau seorang klien yang menunjuk salah satu majalah arsitektur ternama dan menginginkan bangunannya sama percis seperti demikian, atau bangunan modern dengan bukaan yang minim di sebuah daerah tropis, dan bangunan tanpa rainwater harvesting yang terbangun di sebuah daerah dengan tingkat curah hujan yang sangat tinggi. Dan masih banyak lagi. Kita masih bisa membuat arsitektur ber-orientasikan lebih luas lagi dari itu semua. Dan kita lebih memilih untuk tidak melakukannya. Dan memperpendek jangkauan itu.

Kembali kepada Adimas, seorang sarjana muda lulusan angkatan tahun 2045 di sebuah universitas ternama di negara tempatnya tinggal. Disebuah café yang hampir seluruhnya berbahan sintetis di lantai ke Sembilan puluh tiga dari salah satu dari ribuan bangunan pencakar langit di luar sana, memandang langit yang hampir tertutup di selah-selah bangunan itu. Ia Duduk dan terdiam ditemani secangkir kopi yang sudah terlanjur dingin ditambahkan sebuah teman barunya, yaitu sebuah kumpulan kertas A3 yang dijilid dengan judul besar di halaman pertamanya : “Proyek redesain Burj-Khalifa, Dubai.”

Sungguh kenyataannya sama sekali jauh berbeda dari apa yang ia pelajari semasa perkuliahan.



Komentar

Postingan Populer