KEMANA MANUSIA


Siapa yang sebenarnya menjadi subyek - subyek dari suatu perancangan arsitektur dan kota ?
Yang setia memanfaatkan fasilitas kota dalam waktu 24 jam, sang pengelana juga sang pendiam ditiap ruang - ruang sisa kota.

Mereka adalah para kaum yang tidak terlihat, tapi terlihat.

Kesedihan yang terjadi pada perkembangan Arsitektur adalah  menerima fakta bahwa kita sering kalanya menikmati sebuah kota hanya dari Jendela Mobil atau Jok Motor dan melihat seisi kota bak tur keliling Taman Safari Atau menikmati kota seperti menonton Film tembak yang disuguhi pada kaca-kaca depan kantor atau apartemen berlantai banyak. Yang paling sedih lagi adalah pihak – pihak yang menikmati sebuah kota dari suatu ruangan dengan pembatas solid di sebuah layar Smartphone atau Android dengan sebuah pintu penghubung bernama Instagram, Facebook, Path, atau lainnya.

Dunia sudah se-virtual itu. Tapi mereka tidak.
Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang orang – orang yang paling mengalami halus kasarnya sebuah kota. Sebuah subyek nyata yang “masih” hidup yang mengalami setiap sentuhan dari Arsitektur dengan begitu Intim. Utilitas, Virmitas, dan Venustas. Ketiga unsur yang membentuk sebuah arsitektur menurut sang ahli Vitruvius, mereka benar – benar mengalaminya. Mereka adalah para Tuna Wisma.

Dengan bahasa yang sedikit sarkastis, saya ingin menyatakan sebuah statement bahwa Arsitek seharusnya bersyukur bahwa masih ada Manusia yang mana walaupun sedikit dipaksakan karena keterbatasan yang ada, benar – benar merasakan idealisasi terhadap setiap obyek artifisial yang mereka buat.

Para Tuna Wisma adalah orang yang sebenarnya mengalami sebuah kota dalam 24 Jam. Mereka benar benar tahu baik-tidak, kasar-halus, panas-terik, dingin-menusuk pada setiap sudut - sudut kota. Mereka benar - benar merasakan pengaruh dari perbedaan setiap centimeter tinggi elevasi naik turun dari setiap pedestrian, merasakan bau-harum dari saluran irigasi kota. Menikmati tritisan pinggir pertokoan waktu hujan, berjalan dengan setapak dan tulus di celah gang - gang sempit. Merasakan kenyamanan dari kebisingan dan asap kendaraan di waktu macet melanda di salah satu persimpangan jalan, merasakan tekanan angin pada saat cuaca sedang tidak baik, dan beberapa dari mereka benar - benar merasakan baik - tidaknya sebuah ketinggian elevasi pada ramp dan guiding block pada fasilitas kota.

Tapi tetap saja, walaupun saya sebagai penulis mencoba memperbaiki citra mereka. Mereka tetaplah suatu bentuk yang dianggap negatif baik bagi para ahli dibidang perkotaan ataupun masyarakat umum. Tuna Wisma kerap dianggap sebagai “penganggu” yang kadang kerap perusak imej sebuah kota. Walaupun jika kita lihat dengan seksama, kadang mereka adalah bentuk nyata dari sebuah perkembangan sebuah birokrasi, perekonomian, keadaan sosial masyarakat di suatu negara. Dan dewasa ini mereka berkeliaran dianggap sebagai sebuah “produk gagal” dari suatu perkembangan perkotaan. Dan kita telah melupakan mereka, mereka yang terlihat sebagai subyek paling nyata dari sebuah kota.

Siapakah para Tuna Wisma ini sebenarnya ? dan darimana mereka sebenarnya berasal ? Tuna Wisma dalam arti luas sulit diartikan menjadi satu pengertian yang baku, karena penyikapan dari Tuna Wisma di tiap daerah dan tiap negara itu berbeda - beda. dalam sebuah buku Strategies to Combat Homeless yang diterbitkan oleh Pusat Permukiman Manusia PBB menjelaskan, bahwa Tuna Wisma adalah  sebuah individu yang tidak memiliki tempat tinggal yang layak untuk menetap. Dalam beberapa kasus, seseorang yang menumpang di rumah seseorang, atau tidur di luar tempat yang jauh dari definisi “tempat tinggal” juga merupakan salah satu bentuk dari Tuna Wisma.

Lalu kemudian darimana mereka berasal ? ada sebuah teori yang menyatakan bahwa Tuna Wisma adalah sebuah bentuk kesalahan yang dilakukan dari tiap Individu di masa lalu yang membuat mereka menjadi kesulitan di masa depan. Jika saya bicara panjang lebar terkait hal ini, maka SARA adalah arah tujuan yang akan kita jalani pada beberapa paragraph artikel ini. Tapi saya ingin mencari jawaban yang berbeda, yang lebih universal agar kita semua dapat menerimanya.

Saya sempat bergaul dan kenal beberapa dari mereka. Yang akan kita jadikan dari sebuah riset sederhana pada artikel ini.

Saya kenal dengan seorang Tuna Wisma yaitu pria lansia berusia 80 tahun, yang kerap mencari rezeki dari sisa - sisa bahan tidak terpakai di pinggir jalan raya. Bapak ini setiap harinya beraktifitas dengan keadaan kaki sebelah yang tidak normal dan dengan penglihatan yang sudah kabur karena usianya sudah sangat rentan. Beliau sudah tidak memiliki siapapun yang bisa menjadi tulang punggung karena suatu insiden yang terjadi pada keluarganya. Keadaan membuatnya untuk sedikit me-remajakan umurnya dan berusaha sendirian di tengah-tengah kota yang ramai.

Ada lagi seorang pria tua yang juga sama, sudah cukup berumur dan dibatasi oleh kemampuan berjalan. Namun yang satu ini dulunya adalah seorang prajurit pejuang kemerdekaan yang terlupakan. Ia putus komunikasi oleh keluarganya karena beberapa alasan dan kesehariannya saat ini menjual sebuah bubur di sebuah kota kecil, ditempat yang tidak terlalu ramai. Ia tidak memiliki kesempatan untuk mencari jalur usaha atau tempat yang lebih baik. Keterbatasan relasi, kemampuan tubuh,dan tanggungan, telah membatasi mobilitasnya.

Baru - baru ini juga saya bertemu dengan seseorang yang bisa disebut dengan Tuna-Wisma-Baru. Dulunya ia adalah seorang guru di sebuah sekolah. Lalu ia ditimpa oleh musibah yang menyebabkan hartanya dicuri, keluarganya hancur dan kocar - kacir berantakan. Ia sudah tidak memiliki apa - apa ataupun siapa - siapa. Dilanda hutang piutang untuk memperbaiki keadaan keluarganya yang kacau balau. Saat ini ia berusaha sendirian berdagang jajanan ringan dipinggir jalan. Bapak yang satu ini masih cukup muda dibanding kedua bapak sebelumnya, sehingga saya berdoa dalam - dalam di hati  agar waktu akan berangsur - angsur merubah keadaannya di suatu hari nanti.

Ketiga kasus yang saya paparkan memiliki kronologi dan kejadian yang berbeda - beda sehingga diri mereka menjadi Tuna Wisma. Namun jika kita mau mengkategorikan bahwa itu semua adalah sebuah bentuk kesalahan yang dilakukan dari mereka di masa lalu. Maka saya tidak membenarkan sepenuhnya. Beberapa dari mereka mungkin demikian, tapi beberapanya lagi menjadi seperti itu karena sebuah musibah yang tidak terhindarkan, beberapa karena permasalahan keluarga, beberapa karena mereka memiliki keterbatasan dalam ruang gerak.

Daripada menganggap sebuah musibah atau pengganggu dari sebuah citra kota. Saya ingin mengkategorikan mereka sebagai gejala, Kekurangan, atau bakteri. Tapi tidak hanya Tuna Wisma. Kita semua adalah bakteri dari sebuah kota. Tuna wisma hanyalah sebuah arti yang sangat spesifik terhadap seseorang yang tidak memiliki tempat tinggal yang layak, tapi ada bakteri bakteri yang lainnya juga..bukan ? seperti seorang preman di tengah jalan, pencopet, pengemis, pedagang kaki lima, bahkan seseorang yang sedang galau dan duduk termenung di pinggir jalan pun bisa dikategorikan demikian. (bayangkan jika dengan tingkat kegalauannya yang semakin tinggi ia tiba tiba meluncurkan diri ketengah jalan dan menghantam kan dirinya kepada sebuah kendaraan dan membuat macet sepanjang jalan). Mereka “masih” sama rata dengan kita. Hanya dengan kemampuan dan pola aktifitas yang berbeda.

Bakteri - bakteri ini akan menyebar semakin luas tergantung dari penyikapan kita sebagai pemilik tubuh. Setiap bakteri, baik dan buruknya juga tergantung dari penyikapan kita. Pada tubuh manusia, bakteri akan semakin buruk jika kita membiarkan, dan memperburuk keadaan dengan mengkonsumi makanan yang mempercepat penyebarannya. Pada kasus Tuna Wisma dan Kota, hal - hal yang memperburuk ini bisa jadi seperti diskriminasi, melupakan, menghina, membiarkan, dan bisa juga dengan melupakan mereka.

Pada sebuah penyebaran bakteri yang semakin akut, dan berkembang menjadi penyakit bisa ditemukan pada di sejumlah kota besar. Mereka yang dibiarkan dan terus didiskriminasi akan menciptakan slum di pinggir kota atau dibawah jembatan penyebrangan. Seperti sejumlah slum yang tercipta di Mumbai, India, yang mana merupakan kawasan slum terbesar di Asia berawal dari ini. Bakteri yang cukup kuat akan melawan dan menjadi jahat. Beberapa akan pergi dan melakukan kegiatan kejahatan. Beberapa lagi akan melawan birokrasi setempat yang mengatas-namakan ketidak-adilan.

Tapi kita tidak bisa menghilangkan bakteri itu, kita harusnya mengobati. Mengenali dan tidak melupakan bahwa mereka ada diantara kita. Dan butuh bantuan, dorongan. Sebuah penelitian dari sejumlah Tuna Wisma membuktian bahwa kebanyakan dari mereka juga tidak hanya menerima tekanan Jasmani atau keterbatasan fisik tapi juga psikologi, mental. Oleh karena itu, bantuan yang bisa kita berikan kepada mereka juga tidak hanya sebatas bantuan fisik, bisa juga dengan bantuan psikologi. Semangat. Membuat mereka tidak terdiskriminasi dari sebuah dunia yang luas ini. Membuat mereka percaya diri untuk mampu berjalan dengan tegap di hari esok, dan percaya bahwa kehidupan masih berpihak kepada mereka.

Dan Arsitektur ? Untuk kesekian-ratus kalinya dari sebuah artikel kritik arsitektur, Saya kembali lagi ingin menyatakan bahwa arsitektur harusnya dapat menyentuh semua kalangan, jika pendekatan psikologi yang directly/langsung dapat menyentuh mereka masihlah menjadi hal yang sulit bagi seorang perancang, maka cukuplah dengan membangun fasilitas kota yang juga manusiawi terhadap mereka. Karena sejatinya mereka juga masih manusia…bukan, manusia ?




Komentar

Postingan Populer