KOPI DALAM ARSITEKTUR
bapak Johannes widodo
merupakan Seorang praktisi, professor, dan tenaga pengajar di bidang arsitektur
kota dan cagar budaya di Singapura yang bertanah kelahiran di Daerah
Keistimewaan Yogyakarta, Indonesia.
Dalam kuliah umum nya tentang
Implementasi Konsep Livabilitas dalam konteks urban, ia telah berhasil
menginspirasi kita semua dengan berbagai statement - statement yang ia berikan
selama kuliah umum. Dalam kuliah umum yang dilaksanakan di Universitas Lampung
kala itu, dia sendiri yang merekomendasikan dari judul, tempat, dan susunan
acara dari materi kuliah umum yang akan di sampaikan.
Architecture : Form, Space, & Coffee.
Ada satu hal yang mengganjal
pikiran saya sebelum berlangsungnya kuliah umum ini, bagaimana sebuah kopi bisa
dikaitkan dengan arsitektur ? dan saya sempat tadinya berfikir bahwa ini hanyalah
bagian intervensi dari para mahasiswa yang menyusun kegiatan tersebut. tapi
tidak, Kopi memegang suatu kendali yang tidak kalah penting menurut bapak
Johannes dalam perkembangan arsitektur Urban.
Satu gelas kopi mungkin tidak
akan membawa pengaruh yang besar terhadap pecandu kopi, apalagi bagi yang bukan
penikmat kopi. Tapi suatu interaksi yang terjadi kala satu gelas kopi itu
disuguhkan-lah point utamanya. Satu kopi mungkin tidak berarti apa-apa, tapi
bisa sangat berarti untuk menjaga atau membentuk suatu hubungan antar-individu
manusia kala itu sehingga menciptakan ruang komunal yang paling ideal yang paling
kita cari dalam perkembangan arsitektur urban.
Form berarti bentuk fisik yang artificial, karena sebuah arsitektur
tidak bisa lepas dari ini. Lalu Space
atau ruang interaksi antara manusia dengan arsitektur itu sendiri dan yang
ketiga adalah Coffee. Coffee atau kopi ini lebih dikaitkan
dengan pentingnya sebuah stimulus dalam suatu arsitektur. Stimulus ini bisa
berarti apa saja dan tidak meleuleu harus dengan kopi. Tapi kopi merupakan
sebuah bentuk interpretasi yang sangat baik untuk menggambarkan hal ini.
Ketiganya merupakan 3 elemen penting dalam arsitektur urban.
Kuliah umum dilaksanakan pada
sebuah RTH di samping gedung fakultas teknik Universitas Lampung. dengan
diiringi oleh pepohonan yang menjulang dilengkapi berbagai instrument kebutuhan
kegiatan yang terlihat kontras dengan lanskap pepohonan disana. Sesekali nyamuk
berdatangan, tapi sepertinya tidak jadi masalah oleh para audiens yang telah
terhipnotis oleh materi yang diberikan oleh bapak Johannes kala itu.
Apa yang kita dapat pelajari
dari latar tempat dan suasana yang terjadi di tempat kuliah umum tersebut ?
Bukan tanpa alasan, tapi latar
tempat dan suasana yang seperti itu merupakan rekomendasi langsung dari bapak
Johannes. Menurutnya, untuk sebuah topic pembicaraan tentang arsitektur urban
yang begitu public, iya perlu
implementasi langsung kepada para audiens agar audiens bisa lebih mudah
menerima materi tersebut. yang terjadi pada latar tempat dan suasana tersebut
merupakan sesuatu yang ingin beliau
buktikan kepada kita semua bahwa ruang komunal bisa terjadi dimanapun dan
dengan apapun.
Banyak arsitek, perencana,
yang mendesain sebuah ruang komunal terfokus terhadap aspek bentuk, material,
atau hal - hal lainnya yang bersifat teknis dalam desainnya. Lalu dengan naïf
mencoba untuk “mengarahkan” tentang zonasi, atas apa yang harus dilakukan dan
yang tidak dilakukan oleh si pengguna. Alhasil ruang komunal hanya seperti
sebuah pakaian mewah yang tidak pernah dipakai atau difungsikan oleh si
pengguna yang hanya mengisi kaca display. Ruang komunal tidak benar - benar
terjadi disana.
Yang harus kita ketahui adalah
bahwa arsitektur hanyalah sebatas Frame/bingkai
dari setiap kegiatan yang diperlukan si pengguna. Seperti yang dikemukakan oleh
Zaha Hadid, atau Shigeru Ban, bahwa arsitektur itu seperti sebuah baju. Ia
perlu sentuhan akhir. Ini sangat penting, yang mana tanpanya Ia tidak akan
berarti yaitu : Manusia.
Jika diibaratkan manusia
adalah sebuah foto dan bingkai adalah arsitektur, maka sejatinya sebuah bingkai
mengikuti bentuk si foto dan bukan sebaliknya. Sering kali kita menemukan suatu
proyek yang mana peran dari idealisme seorang arsitek terlampau jauh. Dengan
membatasi mindset dari pengguna bahwa
arsitektur itu seperti bingkai, maka itu juga memberikan peluang untuk
membatasi idealisme sang perancang menuju arsitektur yang lebih bermasyarakat. Sebagai
contoh yang sederhana dapat diambil dari suasana tempat kuliah umum tersebut
dilaksanakan.
Seperti yang sudah dijelaskan
sebelumnya, bahwa ada 3 elemen dasar yang sangat penting pada sebuah arsitektur
yaitu : Form, Space & Coffee. Untuk
membuat agar aktifitas yang terjadi pada ruang arsitektur yang dibuat
diperlukan satu stimulus atau yang diistilahkan kepada bapak Johaness sebagai
Si-Kopi dari arsitektur. Stimulus ini akan membuat perancangan arsitektur
menjadi lebih hidup dan sesuai dengan problem-based
nya. Stimulus ini tidak boleh terlalu banyak. Tidak perlu banyak embel - embel berbagai
ornament seperti sculpture futuristic atau dengan pola perulangan bentuk yang
fantastis serta semacamnya. Tapi sesuatu yang lebih sederhana tapi berkesan
banyak dan berpengaruh menurut fungsi arsitekturnya. Seperti layaknya kopi,
jika sebuah kopi terlalu banyak gula maka kesan dari kopinya akan hilang.
Walaupun memang, ada beberapa penikmat kopi yang lebih suka kopi dengan
penambahan sedikit gula pada adukannya.
Stimulus dari kuliah umum
tersebut adalah bapak Johaness. Tanpanya, aktifitas kuliah umum disana tidak
akan terjadi seperti yang seharusnya.
Dan latar Space yang terjadi
disana adalah bukti bahwa aktifitas bisa dibentuk dengan baik dimana saja. Dan Form bisa jadi apa saja, terbukti dari
desain dan hiasannya tempat kuliah umum yang sederhana namun tetap memiliki nilai
aestetis didalamnya. Disana beliau menjelaskan kepada kita betapa pentingnya
sebuah stimulus dalam arsitektur. Kita kembali lagi, pada kasus sebuah kopi.
Hanya dengan sebuah kopi pait di salah satu warteg kayu sederhana, ditemani
dengan gorengan atau singkong rebus yang masih panas, sudah mampu menciptakan
ruang komunal yang begitu berkesan. Jika dibandingkan dengan proyek ruang
komunal yang lebih eksklusif dan konvensional ? tidak semuanya dapat
menciptakan suasana yang sebaik itu adalah bukti bahwa kita harus lebih
mendalami lagi pengetahuan kita tentang dasar - dasar prinsip sebuah
arsitektur.
Question & Answer
Q :
Lalu terlintas satu
pertanyaan, kita seisi audiens yang berada disana kebanyakan adalah orang - orang yang berkecimpung di dalam dunia itu
bahkan beliau pun demikian, bukankah secara tidak langsung beliau ingin
menyatakan bahwa profesi kita tidak seberguna yang kita bayangkan selama ini ?
bahwa sejatinya sebuah penyelesaian masalah lingkungan binaan tidak meleuleu
harus dengan arsitektur ?
A :
Iya. Kadang kita harus dapat
menerima kenyataan bahwa sebuah penyelesaian dari lingkungan yang akan kita
bina tidak harus dengan arsitektur. Tapi daripada menyatakan statement bahwa
profesi kita tidak seberguna yang kita bayangkan, lebih baik saya berkata bahwa
kita harus lebih bijak dalam berarsitektur. Kita ambil contoh Romo Mangun,
walaupun beliau dikenal sebagai bapak arsitektur modern Indonesia, yang beliau
lakukan disana ketika melakukan pembinaan terhadap lingkungan Kali Code
bukanlah dengan mulai menganalisa, membuat zoning,
membaca riset, atau membuat tabulasi berbagai macam jenis disana. Tapi dengan
berada disana, mengalami, menjadi salah satu dari mereka. Setelah itu ? kita
dapat menilai bahwa konflik sosial yang dapat diselesaikan disana lebih
bernilai dari arsitekturnya. Kali Code hanyalah sekumpulan bangunan beragam
bentuk warna -warni tanpa kita tahu mengapa itu semua bisa terjadi, bukan ?
Q :
Kiblat mana yang baik untuk
diikuti kita para audiens untuk mempelajari prinsip - prinsip dasar dari
arsitektur ini ?
A :
Permasalahannya bukanlah
kiblat mana, tapi ini berkaitan dengan jati diri arsitektur tempat kaki kita
diinjak ini. Jika saya bicara sekarang, maka kaitannya dengan arsitektur
nusantara. Kita sebagai warga negara Indonesia wajib mempelajari tentang
arsitektur nusantara. Jati diri ini yang kita perlu pahami terlebih dahulu, ada
banyak hal yang bisa kita pelajari, ada banyak arsitek lokal terkenal kita
ketahui. Dan mahasiswa jaman sekarang sangat sedikit yang mengetahui apalagi
mempelajari para arsitek-arsitek nusantara dulu. Seperti Silaban, Noe’man, Romo
Mangun, Maclaine Pont berapa banyak berapa banyak dari kita yang tahu nama-nama
arsitek tanah air kita yang sudah sukses di jamannya ini ? berapa banyak lagi
yang mempelajari tentang arsitektur yang telah mereka ciptakan atau bagaimana
cara mereka merancang berkontemplasi terhadap lingkungan yang akan mereka bina
? tidak banyak. Mereka adalah orang - orang yang sudah pernah berhasil di tanah
air ini, tapi mengapa sangat sedikit dari kita yang mempelajari mereka dan
justeru berkiblat kepada para arsitek - arsitek negeri barat yang hidup di
lingkungan dan kondisi geografis yang sangat berbeda ini ?
Q :
Saya ingin sekedar sharing
tentang zonasi kota Bandar Lampung, belakangan ini banyak permasalahan terjadi
tentang zonasi di kota ini. Seperti lahan yang harusnya jadi area penghijauan
kota yang dirubah menjadi area komersil, seperti teluk betung yang punya nilai
sejarah tinggi yang justeru ditinggalkan oleh masyarakat, bangunan bersejarah
ditinggalkan dan hanya menunggu waktu untuk dihancurkan atau di alih-fungsikan.
Bagaimana cara kita memulai untuk menyadarkan, atau cara kita menemukan jati
diri / genius loci dari si zona-zona
ini ?
A :
Sebenarnya hal yang besar bisa
kita mulai dari hal - hal yang sederhana. Kita memang tidak bisa meng-kotak-kotakan
masyarakat menjadi seperti yang kita (sebagai perancang) mau. Sebagai contoh,
seperti secangkir kopi tadi. Dimanapun itu disuguhkan, ditemani beberapa
camilan sudah cukup menciptakan ruang komunal seperti yang kita inginkan bukan
? daripada kita menganalisa sana-sini lalu memutuskan titik ini tepat untuk
menjadi ruang komunal. kita juga bisa menggunakan sedikit intervensi dari
perkembangan teknologi. Saya punya kebiasaan yang tidak biasa terhadap
memanfaatkan google earth sehari -
hari. Semua yang ada disini pasti punya..bukan ? pada waktu senggang, tentunya
tetap ditemani secangkir kopi, saya manfaatkan untuk membuka dan mulai menandai
tempat-tempat rekomendasi saya, atau aktifitas yang saya temukan di
tempat-tempat itu dengan menggunakan fitur di aplikasi ini. Mulai dari bangunan
bangunan komersil, pangkalan ojek, warteg langganan, rekomendasi tempat makan
yang enak, dan lain - lain. Perlahan tapi pasti, setelah suatu daerah itu sudah
mulai penuh saya tandai, saya kemudian mulai bisa membaca tempat itu, bagaimana
aktifitas yang terjadi disana, keramaiannya, dan saya mulai bisa membaca zonasi
dari tempat itu. Saya menemukan genius
loci itu.
Q :
Saya akan bercerita tentang limbah
fabrikasi material. Di Bandar Lampung, pengolahan limbah sisa proyek ini masih
sangat minim dilakukan. Sebagai contoh yang saya temukan di Bandara
Soekarno-Hatta. Jadi setelah bandara ini mendapatkan renovasi, limbah limbah
dari konstruksi bangunan yang lama seperti baja ringan, plat-plat besi ini
ditinggalkan di salah satu sudut bandara dan terbengkalai hingga sekarang, saya
tidak tahu kapan itu akan dipindahkan atau terurai. Mungkin tidak akan pernah
sama sekali.
A :
Jujur, saya memang tidak
percaya dengan fabrikasi material dan embel-embel green architecture yang menyertainya. Bagi saya, Green Architecture is a bullshit. Saya
tidak akan pernah percaya dengan green
architecture selama ia masih menggunakan fabrikasi material. Memang, dengan
menggunakan material fabrikasi, jumlah penggunaan bahan alami akan berkurang,
dan hutan semakin terjaga, tapi kita telah mengorbankan sumber daya alam yang
lebih besar lagi yang sebagian dari mereka tidak bisa diperbaharukan. Saya
tetap sepakat dengan bagaimana cara leluhur kita menggunakan material
tradisional dengan teknik teknik yang tradisional.
Suatu perbedaan yang terjadi
antara Indonesia dengan Singapura. Kalau di Indonesia kita membetonkan hutan,
di Singapura kita sibuk menghutankan beton. Singapura bukanlah negara yang
sebesar Indonesia, karena itu kita selalu mencari - cari Inovasi dari
memaksimalkan penggunaan lahan, atau tentang inovasi material yang lebih ramah
lingkungan. Kita sangat intens membahas hal - hal seperti itu. Saya pernah
punya suatu proyek di Singapura. Ada suatu lahan yang ditinggalkan lengkap
dengan bangunan - bangunan yang tidak terpakai. Dulunya jauh sebelum bangunan berdiri disana,
ada saluran irigasi yang tertanam dibawahnya, dan saat itu sudah tidak bisa
digunakan. Lalu sikap yang saya lakukan adalah, saya menghidupkan saluran
irigasi itu kembali. Hanya itu. Kita harus tahu kalo air adalah sumber pembawa
kehidupan bukan ? 1-2 tahun pertama efeknya memang belum terlihat, tapi setelah
5 tahun-10 tahun efek lembab dari air dan tanah yang bercampur membuat beberapa
rumput dan lumut mulai tumbuh, berangsur-angsur pepohonan kecil tumbuh yang
kemudian makin lama makin menjadi besar. Saya tidak mengintervensi banyak
terhadap bangunan terbengkalai yang ada disana. Tapi saya bisa merasakan tanda
- tanda kalau alam mulai mengambil alih. Tahun-tahun berikutnya suasana disana
seperti sebuah hutan kecil ditengah kota yang padat. Binatang-binatang yang
dulunya berada disana mulai berdatangan kembail seperti burung, dan serangga-serangga
kecil. Airnya mulai dihidupi oleh ikan-ikan kecil, yang makin lama makin
menjadi besar. Karena disana ada ikan, masyarakat mulai berdatangan untuk
memancing, anak-anak yang menunggu ayahnya memancing asik bermain dengan segala
tatanan lanskap alami yang tercipta disana. Dan disana kita sudah bisa
menemukan keseimbangan yang terjadi antara lingkungan dengan manusia.


Komentar
Posting Komentar