SEJATI SEPERTI ARANG


Ada Wanita pada pagi buta, mengambill sejumput arang yang ditaruhnya ditempat calon perapian. Dengan senang Hati  si Calon Perapian menerimanya. Sebagai Lakuna dari kesejatian dan makna hidupnya pada semesta. Dia Anglo.

Derik suara Arang terdengar ketika jumput demi jumput ditaruhnya disana sebagai pelengkap hidup seseorang. Tidak ada yang tahu dengan nasib nya hari ini, tapi yang pasti dia akan berguna untuk orang lain.

aku benci suara Arang.

Melihatnya pagi itu membuatku lebih menderita dari sebelumnya. tidak tahan, akan aku uraikan kepada kalian semua, kesejatian hidup dari sebutir Arang.

Karena arang---adalah sesuatu yang tidak hidup tidak juga mati, aku mulai sulit menemukan istilah yang tepat untuk mendeskripsikan kehidupan dan/atau kematiannya. Menurutmu, apa istilah peran seperti itu di semesta ini ?

Mulanya, Kita tahu bahwa setiap makhluk hidup selalu terdapat unsur karbon didalam tubuhnya. Itulah mengapa---hal ini menjadi acuan para arkeologi dalam mengukur kehidupan yang pernah ada. Dan sebutir Arang, adalah sebuah residu hitam yang berisikan karbon tidak murni yang dihasilkan dengan menghilangkan unsur air dari suatu organisme hidup. Hewan atau tumbuhan. Residu adalah zat sisa. Sesuatu yang tertinggal. Sering disebut sebagai ampas, kotoran, materi terakhir dari materi penuh yang telah melalui proses kimia tertentu.

Yang berarti, dia pernah hidup. Arang adalah sebuah materi yang pernah hidup (organisme) dan bermanfaat untuk menjaga ekosistem di semesta yang kemudian dengan tidak atau sengajanya dibuat untuk mati tanggung. Aku menyebutnya demikian, karena di waktu kematiannya itu, ia dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan jasmani seseorang.

Tidak dibiarkan untuk mati dengan damai. Arang hidup dalam sukarela. Sukarela mengorbankan dirinya dalam pengorbanan itu sendiri. Pengorbanan dari pengorbanan. Pagi hari dia taruh di bakar dengan api. Selesai, disiram dengan air atau dimatikan. Didiamkan. Didinginkan pada malam. Diberikan api lagi pada esok paginya. Lalu diberikan air kembali. Arang menerima api dan air dari tangan orang sama. Merasa rasa sakit dan perasaan damai dari tangan orang yang sama. Arang tidak boleh berlarut dalam api karena dapat menghancurkannya, juga tidak boleh lupa diri dengan air dan kehilangan fungsinya apa.

Arang digunakan sebagai alat untuk masak, alat menghasilkan penerangan, alat menghasilkan api, alat pemuas kehidupan seseorang di jeda waktu kematiannya. Seperti seseorang yang mati dengan tertusuk. Yang dengan ajaibnya, tusukan yang menikam dirinya selama sepersekian detik itu di ekstensikan menjadi sepersekian jam, hari, bahkan minggu. Merasakan rasa sakit yang terekstensi sekian lama, tentu tidaklah mudah dan butuh pengorbanan penuh dan rasa sukarela yang besar.

Dengan lemah lembut namun penuh maksud, pada pagi buta si empunya membisikkannya pesan perintah dengan lemah lembut.

“aku membutuhkanmu. Tentunya aku tidak akan bisa mendapatkan hidup lebih baik. Tanpa kehadiranmu dalam perapian.” Dengan maksud tertentu dan meminta keikhlasan dari si Arang.

Pada hari itu, derik itu memanggil. Semakin kencang dan semakin mendalam didalam kepalaku. Suara derik itu terdengar lebih keras didalam pikiranku, aku terfokus dan terhanyut didalamnya sehingga tidak ada suara lain yang kudengar. Suara derik dari tiap butir Arang yang diaduk, ditaruh, dibakar, dihancurkan, diangkat, disiram, selalu sama. Kenapa ? karena itu adalah teriakan. Itulah alasan aku membenci suara Arang. Aku selalu merasa kesal dan benci dengan diriku sendiri.

Teriakan dari arang. Adalah deriknya yang nyaring seperti suara dari tulang-tulang yang remuk, pohon pohon kering yang sudah hampir menjadi batu.

Jikalau dia mampu berkata untuk berhenti. Dia akan berkata.

 Sekedar kata teriakan pun sungkan untuk ia ucapkan langsung.


 Dengan kekuatan yang tersisa, ia menyampaikan sebuah pesan tersirat didalam kepala. Derik itu berteriak …

“harus semenyakitkan apa dan setidak berguna apa aku sampai kamu bisa mengerti.”
.
Tentunya kita mengerti jawaban itu dalam diam. Sampai benar-benar tidak ada.




Bagiku, Arang adalah sejati. Arang adalah bentuk dari kesukarelaan, pengorbanan, keikhlasan dalam sebuah penderitaan. karena sebagaimana hidup, ada banyak hal yang akan menjadi derita, ada hal yang akan membuatmu merasa damai. hal-hal itu kadang semu, kadang saling beradu. Kadang dengan munafiknya---2 hal berbeda itu berasal dari tangan yang sama. Sebuah api dan air dari tangan yang sama.

Ada yang membuat mu derita kemarin, menjadi alasanmu merasa damai hari ini. Membuat mu kembali derita esok, dan membuat mu kembali damai lusa.

Dan belakangan aku tahu, mungkin ada hal lain selain keikhlasan disini yang menjadi kunci. Penderitaan datang dari rasa sakit yang direspon oleh syaraf manusia ke-otak. Sebagai respon peringatan pertama yang dilakukan tubuh untuk bertahan diri. Itulang mengapa seorang manusia, bisa untuk merasakan sakit.

Dan arang tidak memiliki syaraf itu.

Komentar

Postingan Populer